Harga Dijaga, Petani Terlindungi: DPRD Lampung Perkuat Fondasi Ekonomi Pertanian

Bandarlampung —Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, menegaskan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Lampung. Dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani, komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, dan kopi terus menjadi penopang utama pertumbuhan daerah.

“Tidak dapat kita pungkiri bahwa salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung berasal dari sektor pertanian,” ujar Mikdar saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (9/2).

Ia mengungkapkan, di bawah kepemimpinan Gubernur Lampung saat ini, sejumlah komoditas strategis telah memiliki standar harga eceran terendah (HET). Padi ditetapkan Rp6.500 per kilogram, jagung Rp5.600 per kilogram, dan singkong Rp1.350 per kilogram dengan potongan rafaksi. Harga tersebut tidak boleh dibeli di bawah batas yang telah ditentukan.

Menurutnya, sebelum kebijakan ini diberlakukan, harga hasil panen kerap dimainkan oleh tengkulak sehingga petani berada dalam posisi tawar yang lemah. Di satu sisi, hasil panen tidak bisa terlalu lama disimpan karena berisiko rusak. Di sisi lain, menjual dengan harga rendah membuat petani merugi.

“Dengan adanya standar harga minimal ini, petani kini memiliki kepastian pendapatan yang lebih layak,” tegasnya.

Mikdar menambahkan, regulasi berupa peraturan gubernur dan peraturan daerah terkait komoditas singkong menjadi langkah strategis dalam melindungi petani sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah. Kebijakan ini diyakini mampu memperkuat daya saing sektor pertanian Lampung di tingkat regional.

Ia optimistis, dengan fondasi kebijakan yang berpihak kepada petani, pertumbuhan ekonomi Lampung berpeluang menjadi salah satu yang tertinggi di Sumatera.

Tak hanya soal harga, Komisi II DPRD Lampung juga terus mendorong penguatan sektor hulu hingga hilir. Dukungan bibit unggul, pupuk, hingga sarana produksi dinilai menjadi kunci peningkatan hasil panen.

“Meski pupuk subsidi telah tersedia, petani tetap harus menebusnya. Karena itu, kami berharap ada tambahan bantuan dari pemerintah daerah agar beban biaya produksi bisa ditekan,” ujarnya. (*)

  • Related Posts

    BI Lampung Catat Inflasi di Juni 2026 Daerah itu Terkendali

    LAMPUNG- Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Lampung pada Juni 2026 mengalami inflasi 0,55% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya (0,82%; mtm). Realisasi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan rata-rata inflasi…

    Lampung April 2026 Inflasi Sebesar 0,55 Persen

    LAMPUNG- Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Lampung pada April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,55% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,19% (mtm). Realisasi tersebut lebih tinggi dari rata-rata…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    BI Lampung Catat Inflasi di Juni 2026 Daerah itu Terkendali

    Penjualan Sapi Kurban Lampung 2026 Naik 40,15 Persen, Domba Melonjak 121,76 Persen

    Wagub Jihan Nurlela Groundbreaking Tiga Ruas Jalan di Pringsewu, Targetkan Kondisi Jalan Mantap 100 Persen pada Akhir 2029

    Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Paparkan Kesiapan Lampung Jadi Tuan Rumah PON XXIII 2032

    Wagub Jihan Nurlela Sambut Baik Kolaborasi Pemprov Lampung dengan Nasyiatul Aisyiyah dalam Mendukung Berbagai Program Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

    Wagub Jihan Nurlela Pimpin Rakor Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Mesuji, Dorong Percepatan Eliminasi TBC di Kabupaten/Kota